Rahmat: the Joki Boy
Di bawah ini adalah percakapan antara saya, Ibu saya, dan seorang joki 3 in 1 cilik yang naik mobil kami saat jam pulang kantor kemarin sore. Anggap saja namanya Rahmat.
Saya: Rumah kamu di mana, Mat?
Rahmat: Di Ciputat, kak.
Saya: Waduh, jauh juga. Naik apa ke Sudirman?
Rahmat: Naik bis kak.
Saya: Berangkatnya kapan? Dari pagi? Atau dari siang?
Rahmat: Dari siang kak.
Saya: Abis pulang sekolah ya berangkatnya?
Rahmat: Iya kak.
Saya: Emangnya kamu kelas berapa?
Rahmat: Kelas 2 SMP kak.
Ibu: Berapa bersaudara kamu, Mat?
Rahmat: Tiga, Bu. Kakak satu, adik satu.
Ibu: Oh.. udah dapet joki-an berapa hari ini?
Rahmat: Belom dapet, Bu. Baru sama ibu aja.
Ibu: Ya ampuunn.. Terus kalo ga dapet joki-an gitu, kamu pulangnya gimana?
Rahmat: Naik bis juga, Bu. Cuma ya paling uangnya saya minjem temen saya dulu. Besok kalo dapet uang, baru dikembaliin.
Ibu: Uang hasil jokinya buat apa, Mat?
Rahmat: Saya bagi dua sama emak saya, Bu. Kalo ada sisanya ya buat saya jajan aja di sekolah.
Ibu: Emangnya sekali ngejoki biasanya dapet berapa?
Rahmat: Sepuluh sampe lima belas ribu deh, Bu.
Ibu: Segitu udah harus dibagi dua sama emak kamu dan ongkos kamu pulang juga?
Rahmat: Iya, Bu.
Lima belas tahun saya hidup di Jakarta. Baru hari itu saya berinteraksi langsung dengan salah satu dari mereka yang hidupnya tidak seberuntung saya. Padahal saya melihat mereka setiap hari. Padahal saya melewati mereka setiap hari. Di pinggir jalan. Di sudut-sudut jembatan. Di pojok gang sempit di tengah megahnya ibukota.
Pernyataan “Ibukota kejam” ternyata bukan sebatas kata-kata. Rahmat adalah potret Jakarta yang paling otentik. Rahmat adalah bukti nyata bahwa hidup di Jakarta itu keras. Dan dia bukan satu-satunya yang merasakan itu.
Setelah mengantar Rahmat pulang ke Ciputat, di mobil saya terdiam. Merenungi hidup.
Di luar, gerimis yang cukup deras sedang membasahi ibukota tanpa kecuali. Dan saya membayangkan apa yang akan terjadi pada Rahmat malam itu, jika Ibu saya tidak menyewanya sebagai joki 3 in 1.
Di Sudirman. Sendirian. Tanpa uang. Kalau itu saya, mungkin saya sudah menangis ingin pulang.
Dan Rahmat yang masih 13 belas tahun itu masih tetap berusaha untuk memberi ibunya sedikit uang tambahan. Untuk kita, apa sih arti lima belas ribu rupiah? Kadang bahkan uang segitu tidak cukup untuk makan siang. Tapi untuk Rahmat dan ibunya, lima belas ribu itu hidup.
Dari sosok Rahmat saya berkaca. Betapa ignorant-nya saya pada dunia. Betapa saya selama ini buta, atau memilih buta, dan tidak melihat bahwa saya harus melakukan sesuatu terhadap mereka. Sampai malam itu saya dipaksa untuk sadar bahwa Rahmat cuma satu di antara jutaan orang yang hidupnya terlunta karena kesenjangan sosial di Indonesia.
Untuk Rahmat-Rahmat lain di luar sana, tunggu saya ya. Saya berjanji akan melakukan sesuatu.