Submitted by nessastooshort
(Source: n3v3r-good-3nough, via glitterheads)
His anniversary gift for me.
Him and our anniversary gift from me.
Saya tidak pernah menyangka bahwa hari ini akan tiba.
365 hari yang lalu, kita memulai langkah ini bersama. Berawal dari sebuah hari Sabtu, kita tinggalkan jejak kaki kita di atas pasir kehidupan.
Satu per satu. Pelan tapi pasti.
Ditemani angin, kita berjalan menyusuri cakrawala. Jemari kita bertautan. Dan hati penuh keyakinan. Karena hanya kepada kamulah hati ini saya titipkan.
Maka hari ini, izinkan saya untuk menghaturkan rasa syukur.
Kepada kamu. Kepada hidup. Kepada semesta raya yang menjadikan rasa ini punya nama. Cinta.
Dan kamu adalah maknanya.
Karena tanpa kamu, cinta hanyalah sederet aksara.
Terima kasih karena telah ada
This is how silly we are when no one is around :) (Taken with instagram)
(Made with @jusgramm) #jusgramm (Taken with instagram)
Sepotong “Duh, kangen” yang saya kirim pagi tadi sebenarnya menyimpan lebih banyak makna dari yang tersampaikan.
Saya memang sungguhan rindu. Ungkapan itu bukan hanya sekedar lucu-lucuan biar terdengar imut. Itu adalah luapan rasa yang saya tidak tahu lagi bagaimana cara menyampaikannya.
Saya rindu ketika waktu masih jadi benda tak terbatas. Ketika tidur larut malam tidak harus diikuti konsekuensi mengantuk di kantor, yang dapat berakibat pekerjaan berantakan. Ketika mengobrol panjang di telepon adalah sebuah maha kebahagiaan karena kamu di Bandung, sedangkan saya di Jakarta.
Dulu saya selalu memimpikan hari di mana kamu pindah ke ibukota. Kita akan tinggal di kota yang sama dan bisa lebih sering bertemu. Namun ternyata kuantitas tidak menjamin kualitas. Saya paham itu kini.
Waktu menjadi terlalu mahal. Untukmu, satu jam itu seharga puluhan, bahkan mungkin ratusan dolar. Untuk saya, waktu seperti terlalu cepat berlari, seperti pedagang kaki lima di tengah razia Satpol PP.
Saya rindu bersama kamu.
Bukan bersama kamu di balik laptop. Atau kamu yang bolak-balik mengecek e-mail lewat smartphone.
Saya rindu kita.
(Source: justlittlethings)
(Source: justlittlethings)
Photo Courtesy: renanmiranda
(via perfectbucketlist)
Jangan lari lagi. Aku di sini menemanimu, bersama hujan yang menari.
Tanpa kata kau datang. Membuatku terjaga dalam diam. Menghamba. Mencinta.
Tiap bulir air yang jatuh dari langit sore ini adalah saksi yang tak bisa berdusta karena ia terikat sumpah. Betapa rasa ini nyata, menjelma dalam wujudmu.
Tak ada lagi sepi. Tak ada lagi janji. Yang ada hanyalah saat ini. Bersamamu, karena hanya itu yang pasti.
Saya tidak pernah tahu bagaimana harus berkata-kata setiap kali datang melayat ke rumah duka atau ke pemakaman seseorang. Saya hanya bisa terpaku diam, berdiri di pinggiran sambil menatap pusara almarhum dengan tatapan kosong.
Ketika orang-orang lain menyampaikan ucapan duka cita beserta doa-doa mujarab kepada keluarga yang ditinggalkan, saya hanya mampu mengucapkan sebaris kalimat template, “Saya turut berduka cita, ya”, sembari menyalami para keluarga.
Singkat. Padat. Jelas. Tidak simpatik dan tidak mengharukan.
Namun jika saya harus bermanis-manis dengan rangkaian kalimat penghiburan, saya juga tidak bisa. Terlalu palsu jika saya harus menyusun kata-kata yang saya tahu akan percuma.
Karena tidak ada yang lebih pedih daripada melihat seorang istri yang ditinggal pergi suaminya untuk selamanya.
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat seorang anak saat menatap nanar jenazah ayahnya.
Tidak ada yang lebih mengharukan daripada menyaksikan orang yang kita cintai kembali kepada Sang Pencipta.
Dan seluruh ucapan belasungkawa itu, tidak ada yang dapat menggantikan air mata yang terlanjur jatuh.
Hari ini, dua insan kembali ke pelukan Yang Satu. Kepada para almarhum, semoga perjalanan kalian berakhir di surga Sang Illahi. Amin.
Ada yang aneh antara hubungan saya dengan Ayah. Bukan dengan Ayah saya, tapi dengan sosok bernama Ayah yang sering digambarkan dalam cerita-cerita.
Ayah yang perhatian. Ayah yang rela mengorbankan hidupnya demi keluarga. Ayah yang tanpa lelah mencurahkan perhatiannya kepada anak-anaknya. Ayah yang mencintai.
Saya adalah produk keluarga yang tumbuh besar tanpa kehadiran Ayah. Alhamdulillah Ayah saya masih hidup. Beliau hanya… tidak hadir.
Berbelas-belas tahun saya bertahan hanya dengan sosok Ibu sebagai orang tua tunggal. Dan saya berani berkata lantang bahwa saya bukan produk gagal.
Namun, saya tetap merasa ada yang janggal. Ada yang kurang.
Aneh adalah ketika satu-satunya komunikasi saya dengan Ayah terbatas pada pembicaraan via telepon. Itu juga tidak pernah lebih dari dua menit. Dan hanya terjadi setiap awal bulan saat Ayah memberitahu saya bahwa beliau sudah mengirimkan uang saku bulanan ke rekening bank saya. Tidak lebih. Tidak kurang.
Begitu saya lulus kuliah, mulai bekerja, dan bisa menghasilkan uang sendiri, obrolan dua menit via telepon itu otomatis lenyap. Bagaimana tidak? Satu-satunya alasan mengapa beliau rutin menghubungi saya setiap bulannya sudah tak ada.
Mencengangkan adalah waktu Ayah baru ingat ulang tahun saya seminggu setelah tanggalnya. Dan beliau mengucapkannya lewat telepon. Saya hanya menanggapi dingin. Berujung pada tangis sedih yang disimpan sendiri setelah telepon ditutup.
Saya tidak bermusuhan dengan Ayah. Hubungan kami baik walaupun tidak akrab. Setiap ada kesempatan bertemu, saya masih mencium tangannya. Paling tidak, itu adalah salah satu cara saya untuk menghormatinya sebagai orang tua. Saya tidak tahu lagi cara yang lain.
Ayah tidak pernah memberi saya kesempatan untuk belajar menghormati beliau lewat metode selain cium tangan dan mengatakan terima kasih setiap awal bulan.
Makanya begitu saya melihat sosok sempurna seorang “Ayah”, baik di film, di novel, bahkan di cuplikan iklan, saya merasa tersentuh cenderung sedih. Merasa cacat batin karena tak punya secuil memori pun tentang Ayah seperti yang dikisahkan di novel dan film-film itu.
Tenggorokan saya selalu tercekat setiap ingat Ayah. Mungkin beliau juga sedih harus menua tanpa anak-anaknya. Entahlah, saya tidak tahu.
Saya tidak pernah marah pada Ayah yang pergi. Tidak, perasaan marah itu sudah jauh terkubur bersama pertanyaan-pertanyaan lain yang saya simpan sejak kecil. Saat sudah sebesar ini, saya tidak lagi butuh jawaban. Hidup sudah menjawab semuanya.
Saya hanya berharap anak-anak saya nanti tidak perlu merasa sendirian tanpa sosok Ayah. Saya ingin ayah dari anak-anak saya itu terus ada di sana. Saat mereka lahir, tumbuh besar, masuk sekolah, lulus sekolah, wisuda sarjana, sampai mereka menikah dan menjadi ayah atau ibu dari anak-anak mereka sendiri. Dan kami berdua jadi kakek-nenek yang saling menertawakan keriput di sudut mata kami.
Untuk Ayah, semoga Ayah baik-baik saja. Saya kangen.